Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita si Kancil yang Suka Mencuri Ketimun Pak Tani

Cerita si kancil mencuri ketimun adalah cerita yang banyak dikenal di tengah masyarakat, yang diceritakan dari generasi ke generasi. Selain itu dongeng tersebut sudah dibuatkan film animasinya sehingga dapat ditonton oleh banyak anak anak. Cerita si kancil sebenarnya mempunyai cerita yang panjang dan dalam artikel ini admin akan menceritakan semuanya, langsung saja cerita si kancil mencuri ketimun sebagai berikut ...
kancil
kancil
1. Si kancil dan pak tani

Alkisah pada suatu hari pak tani sedang menanam tanaman ketimun di sawahnya karena sedang musim kemarau dan biasanya pak tani menanam tanaman padi. Setelah satu atau dua bulan tanaman ketimun mulai banyak yang berbuah dan pak tani akan memanennya. Pada suatu malam kancil sedang berjalan jalan dan mencari makanan karena perutnya lapar.

Saat melewati sawah pak tani kancil melihat banyak tanaman ketimun yang sedang berbuah, seperti durian runtuh kancil sangat senang sekali. Tanpa pikir panjang kancil langsung berpesta dengan makanan yang ada di depannya dan setelah kenyang ia pulang ke rumahnya. Kemudian pada esok harinya pak tani seperti biasa pergi ke sawahnya.

Alangkah terkejutnya pak tani melihat tanamannya rusak dan sebagian buahnya ketimunnya hilang yang dicuri oleh seseorang. Walaupun begitu pak tani sabar akan hal tersebut kemudian membereskan tanamannya kemudian pulang. Pada malam berikutnya kancil ingin mencuri ketimun pak tani lagi karena perutnya lapar, dan akhirnya kancil mencuri ketimun pak tani lagi.

Esok harinya pak tani pergi ke sawahnya dan mendapati tanamannya dirusak dan ketimunnya dicuri lagi. Dalam benak pak tani masalah tersebut tidak boleh dibiarkan dan ia mempunyai rencana untuk menangkap pencuri tersebut. Untuk menangkap pencuri tersebut pak tani membuat orang orangan sawah dan melumurinya dengan getah dari pohon dan buah nangka yang sangat lengket.

Kemudian pak tani langsung membuat orang orangan sawah kemudian di bawa ke sawah pak tani untuk menjebak pencurinya. Namun terlebih dahulu pak tani mengambil getah pohon nangka dan juga buahnya yang matang untuk  melumuri orang orangan tersebut. Setelah itu pak tani pulang dan  berharap besok pencurinya tertangkap.

Pada malam harinya seperti biasa kancil pergi ke sawah pak tani untuk mencuri ketimun lagi karena perutnya lapar. Setelah sampai di sawah pak tani, kancil melihat sosok yang berdiri di tempat tersebut, karena tidak bergerak maka kancil penasaran dan mendekatinya. Setelah dekat kancil menanyainya, siapa kamu ... ?

Setelah di tanya satu, dua kali maka kancil mengancam untuk memukulnya, akan tetapi sosok tersebut diam saja, terang saja karena sosok tersebut adalah orang orangan sawah. Kemudian kancil memukulnya dengan tangan kanannya, akan tetapi tangan kancil seperti dipegangi oleh sosok tersebut dan tidak bisa lepas.

Karena dipegangi maka kancil mengancam akan memukulnya lagi dengan tangan kirinya, dan sosok tersebut diam saja. Kemudian kancil memukulnya dan terjadi lagi yaitu sosok tersebut seperti memegangi tangan kirinya dan tidak bisa lepas. Walaupun berusaha sekuat tenaga kancil tidak bisa melepaskan tangannya karena lengket dengan getah nangka yang dilumurkan pak tani.

Esok harinya pak tani pergi sawahnya untuk melihat apakah perangkapnya berhasil menangkap pencurinya atau tidak. Dan dengan wajah terkejut pak tani melihat kancil yang lengket menemel pada orang orangan sawah yang dibuatnya. Ooo ... jadi kamu ya cil yang mencuri ketimun saya ... Kata pak tani kepadanya ...

Kemudian pak tani membawa kancil pulang, mengurungnya di kandang dan ingin memasaknya untuk dimakan bersama keluarga. Kancil tahu dirinya akan di masak olek pak tani dan karena hal tersebut dirinya sangat sudah. Pada waktu itu kebetulan ada kambing yang lewat di samping kandang kancil, dan tiba tiba ia punya ide untuk menyelamatkan diri.

Kancil : Hai kambing ... aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu ...     

Kambing : Aku tidak mau ... kamu sering bohong dan menipu.

Kancil: Tidak ... aku hanya ingin bercerita saja. Aku akan di kawinkan oleh pak tani dan calon istriku itu sangat cantik. Itu buktinya pak tani sedang memetik buah kelapa untuk acara pernikahannya ...

Padahal pak tani memetik buah kelapa untuk memasak gulai dari kancil yang ditangkapnya.

Kambing : Ooo ... begitu, kamu beruntung sekali dan aku iri sekali ...

Kancil : Kamu bisa menggantikanku menikah jika kamu mau ...

Kambing : Ah ... masa begitu ... nanti pak tani marah ...

Kancil : Iya boleh ... nanti saya bilang sama pak tani.

Akhirnya si kambing mau menggantikan kancil untuk menikah dan masuk ke dalam kandang yang digunakan untuk mengurungnya. Terlebih dahulu kambing membukakan kunci kandangnya kemudian ia masuk dan kancil keluar dan bebas. Dengan cerdiknya kancil bebas dari kurungannya dan lari untuk pergi sejauh mungkin agar tidak di tangkap pak tani lagi.

Setelah tiba waktunya pak tani ke kandang kancil untuk menyembelihnya dan alangkah terkejutnya ternyata yang di dalam kandang adalah kambing. Setelah pak tani bertanya kambing mengatakan bahwa ia akan menikah menggantikan kancil.

Kemudian pak tani menerangkan bahwa kambing dibohongi oleh kancil dan ia akan disembelih pak tani karena mencuri ketimun. Dengan begitu kambing merasa tertipu dan menyesali telah percaya dengan omongan kancil.

2. Si kancil dan buaya

Setelah kancil lari sangat jauh dari rumah pak tani untuk menghindari jika ia mengejarnya kemudian kancil beristirahat setelah sampai di tepi sungai. Karena haus kancil minum di tepi sungai, sambil minum ia memikirkan untuk menyeberangi sungai agar lari lebih jauh lagi dari pak tani.

Karena di sungai tersebut tidak ada jembatan, dan pada saat itu juga tiba tiba kaki kancil di pengang oleh buaya. Buaya tersebut sangat kelaparan karena beberapa hari belum makan dan hari itu kancil akan menjadi santapannya.

Kancil pun panik dan ia bingung harus berbuat apa agar ia selamat, jika melawan hal tersebut adalah tidak mungkin, karena buaya lebih kuat darinya. Jangan bilang kancil jika ia tidak cerdik, ia berpikir bagai mana ia bisa lolos, kemudian ia mendapatkan ide yang bagus. Ia pun berkata kepada buaya ...

Kancil : Hai buaya, jangan terburu buru memakanku, aku akan bertanya kepadamu ...

Buaya : Kau jangan banyak omong, aku akan memakanmu, karena aku sudah lapar.

Kancil : Tunggu dulu, aku mau bertanya, apakah kamu punya teman atau keluarga, panggillah teman temanmu, jangan kau memakan aku sendirian, jika tidak berarti kau adalah orang yang rakus.

Buaya : Baiklah, kamu tunggu di sini, aku akan memanggil teman teman dan keluargaku.

Setelah buaya memanggil teman teman dan keluarganya, datanglah buaya yang banyak untuk memakan si kancil. Di balik itu kancil mempunyai tujuan agar ia bisa lolos dari buaya dan bisa menyeberangi sungai.

Setelah semua buaya berkumpul kancil mengatakan ingin menghitung semua jumlah biaya, ia ingin memastikan jumlah buaya yang ada. Akhirnya semua buaya berjajar dari sisi kanan sungai sampai sisi kiri sungai, kemudian kancil mulai menghitung dengan meloncat dari punggung buaya satu ke buaya lainnya.

Hingga akhirnya ia telah menyeberangi sungai dari satu sisi sungai ke sisi lainnya, setelah selesai menghitung, kancil turun dari punggung buaya dan lari sekencang mungkin meninggalkan para buaya.

Kemudian kancil lolos dari bahaya buaya dan para buaya merasa tertipu atas ulah si kancil dan mereka gagal untuk makan bersama. Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa dengan kecerdikan bisa mengalahkan yang lebih kuat.

3. Si kancil dan harimau

Setelah lari sekencang mungkin si kancil akhirnya berteduh di bawah pohon karena cuaca yang panas. Pada saat itu datanglah harimau yang sedang kelaparan dan ingin memakan si kancil, kemudian ia memikirkan sebuah cara agar lolos dari harimau tersebut.

Dengan kebetulan di samping kancil terdapat kotoran sapi yang sangat besar, kemudian ia memperoleh rencana agar lolos dari bahaya harimau yang datang. Setelah itu ia menutupi kotoran sapi tersebut dengan daun jati agar tidak seperti kotoran sapi.

Harimau : Hai kancil aku sedang lapar sekali, kebetulan kau ada di sini, aku ingin memakanmu.

Kancil : Tunggu dulu, sebelum kau melaksanakan apa yang kau inginkan, maka aku akan berbicara terlebih dahulu. Aku berada di sini karena sedang bertugas untuk menjaga tumpeng nabi sulaiman, agar aman.

Nabi sulaiman adalah seorang nabi yang pada masanya menguasai dunia hewan, sehingga semua hewan tunduk padanya. Sedangkan tumpeng adalah sebuah makanan yang berbentuk gunung yang biasanya dimakan bersama sama dalam sebuah acara.

Harimau : Kau bohong kancil, kamu adalah hewan yang sering berbohong, semua hewan di hutan tahu akan hal itu.

Kancil : Aku tidak berbohong, aku di sini bertugas untuk menunggu tumpeng milik nabi sulaiman, tumpeng ini rasanya enak sekali.
Harimau : Hah enak sekali, aku sedang lapar sekali, bolehkah aku meminta tumpeng tersebut untuk mengobati rasa laparku ini.

Kancil : Tidak boleh, nanti aku dimarahi oleh nabi sulaiman, aku di sini untuk menjaga tumpeng ini.

Harimau : Ayolah kancil, aku kan hanya meminta sedikit, tidak semuanya.

Kancil : Baiklah kalau kau memaksa, akan tetapi aku takut dengan nabi sulaiman, jadi sebelum kamu memakan tumpeng ini, aku akan pergi cukup jauh dan dari kejauhan aku akan memberi kode.

Harimau : Baik kalau begitu, aku akan menunggu

Setelah itu kancil lari cukup jauh, ia tidak menyia nyiakan kesempatan tersebut untuk melarikan diri, saat ia cukup jauh maka ia berteriak “sudaaaah”. Harimau pun mendengarkan kode dari si kancil, dengan perut keroncongan harimau mulai memakan tumpeng tersebut.

Alangkah terkejutnya bahwa tumpeng tersebut adalah sebuah kotoran sapi yang sangat besar, dan harimau mual dan muntah muntah karena baunya. Ia sangat marah karena di tipu oleh si kancil, tetapi apa daya karena ia sudah pergi jauh.

4. Si kancil dan singa

Setelah lari cukup jauh dan lolos dari harimau, ia kemudian beristirahat di sebuah tempat untuk menghilangkan rasa lelahnya. Kemudian datanglah singa yang juga kelaparan dan ingin memakan si kancil, kancil pun terkejut dan memikirkan bagaimana lolos dari singa tersebut.

Di sampingnya dengan tidak sengaja ada seekor ular yang besar dan kulitnya berwarna warni sehingga sangat indah. Ular tersebut sedang tidur di semak pepohonan, sehingga ia diam tidak bergerak dan tidak jelas bahwa itu adalah sebuah ular.

Singa : Hai kancil aku lapar sekali, aku akan memakanmu, kau jangan coba untuk lari.

Kancil : Tunggu dulu, aku mau bicara, aku di sini sedang menunggu sabuk milik nabi sulaiman, sabuk ini sangat indah, ini dia sabuknya ...

Kancil berkata sambil menunjuk ular tersebut.

Singa : Oh begitu ... memang benar ini adalah sabuk yang sangat indah, bolehkah aku memakainya ?

Kancil : Tidak boleh ... ini adalah sabuk milik nabi sulaiman, aku di sini sedang menjaganya.

Singapun memaksanya, akhirnya kancil meperbolehkannya, akan tetapi dengan syarat ia akan lari dengan cukup jauh kemudian memberi aba aba, kemudian boleh memakai sabuk tersebut. Hal tersebut dilakukan dengan alasan takut jika dimarahi nabi sulaiman.

Setelah lari cukup jauh maka kancil berteriak memberi tanda bahwa sudah boleh memakainya “sudaaaah”. Kemudian singapun memakai sabuk tersebut, dan alangkah terkejutnya sabuk tersebut adalah sebuah ular yang sangat besar.

Dengan segera singa melemparkannya, untung saja ia tidak digigit ular tersebut, ternyata ia di bohongi oleh si kancil. Singa mengatakan jika ia bertemu lagi dengan kancil maka ia akan langsung menghajarnya.

5. Si kancil dan beruang

Setelah lari dan lolos dari singa, maka ia cukup kelelahan, kemudian ia beristirahat di bawah pohon bambu yang rindang. Tiba tiba dari belakang ada seekor beruang yang menangkap dan ingin memakannya.

Sekali lagi kancil bingung dan memikirkan bagaimana selamat dan lolos dari beruang, kemudian ia melihat pohon bambu di sampingnya dan menemukan ide.

Beruang : Mau lari ke mana kau kancil, aku lapar sekali, aku ingin memakanmu.

Kancil : Tunggu dulu, aku ingin mengatakan sesuatu, aki di sini sedang bertugas untuk menunggu seruling nabi sulaiman.

Beruang : Kancil kau pintar berbohong, aku tidak akan tertipu, kau itu pintar berbohong.

Kancil : aku tidak berbohong, aku sedang menunggu seruling nabi sulaiman, coba kau dengarkan, ada suara kan ... jika kau memakanku maka kau akan di hukum oleh nabi sulaiman. Jika seruling itu di tiup maka akan menghasilkan suara yang sangat bagus.

Pada saat itu ada semilir angin sehingga menggoyang beberapa pohon bambu dan menimbulkan bunyi yang khas.

Beruang : Ohh begitu ya ... jadi aku gagal mendapatkan makanan sekarang, bolehkah aku meniup seruling tersebut, aku ingin mendengarkan suaranya.

Kancil : Sebenarnya tidak boleh, akan tetapi jika kau memaksa aku memperbolehkannya, sebelum kau meniupnya aku akan pergi jauh dahulu karena aku takut kepada nabi sulaiman, jika aku sudah jauh maka aku akan memberikan tanda.

Beruang : Bagaimana cara untuk meniupnya ?

Kancil : Caranya yaitu saat angin mulai datang letakkan lidahmu di antara dua pohon bambu tersebut, maka akan mengeluarkan suara yang indah dari seruling tersebut.

Kemudian kancil lari dan pergi sejauh mungkin, pada saat sudah jauh maka ia memberikan tanda dengan berteriak “sudaaah”. Saat beruang mendengar suara kancil maka beruang menunggu angin yang datang untuk meniup seruling tersebut.

Saat angin datang maka beruang meletakan lidahnya di antara bambu tersebut, dengan seketika lidah beruang terjepit di antara dua bambu. Kemudian ia kesakitan karena lidahnya yang terluka, akhirnya beruang sadar bahwa ia telah dibohongi oleh si kancil dan ia menyesal telah percaya kepadanya.

6. Si kancil dan gajah

Setelah lolos dari beruang, kancil terus berjalan, dengan kecerdikannya ia beberapa kali lolos dari bahaya yang mengancamnya. Saat berjalan di depannya terdapat sumur tua yang sudah hancur bagian atasnya sehingga sumur tersebut tidak terlihat.

Kemudian kancil jatuh ke dalam sumur tersebut karena ia tidak melihatnya, kancil pun kebingungan karena tidak bisa naik ke atas. Ia khawatir jika tidak ada yang menolongnya maka ia akan mati di sumur tersebut karena kelaparan.

Pada saat kebingungan tersebut maka datanglah seekor gajah yang sedang lewat dan menanyakan apa yang sedang dikerjakan kancil di dalam sumur. Kemudian kancil mendapatkan cara agar ia bisa keluar dari sumur.

Gajah : Hai kancil, sedang apa kau di dalam sumur ?

Kancil : Aku sedang mencari ikan, di sini banyak ikan yang bagus, turunlah ke sini kamu akan mendapatkan banyak ikan.

Gajah : Begitukah, baiklah aku akan turun ke dalam sumur.

Begitu gajah turun ke dalam sumur maka kancil langsung naik ke punggung gajah dan ia naik ke atas sumur sehingga ia dapat keluar dari sumur. Gajah cukup kaget dengan kelakuan kancil dan ia tidak melihat ikan sama sekali di dalam sumur, sehingga ia merasa tertipu.

Ia menyadari bahwa kancil telah membohonginya dan ia hanya dimanfaatkan oleh kancil untuk bisa keluar dari sumur tersebut. Sekali lagi kancil bisa keluar dari masalahnya dengan membohongi orang lain dengan kecerdikannya.

7. Si kancil dan monyet

Setelah kejadian dengan gajah kancil melanjutkan perjalanannya, di tengah perjalanan ia tidak sengaja menginjak duri yang tajam, sehingga kakinya terluka dan tidak bisa berjalan. Luka kakinya pun bertambah parah dan ia tidak bisa pergi ke mana mana, kemudian ia mulai kelaparan.

Pada saat itu ia melihat pohon pisang di sampingnya yang telah berbuah matang, ia ingin memetik buah pisang tersebut, akan tetapi ia tidak bisa. Pada saat itu ada seekor monyet yang sedang lewat, kemudian kancil meminta monyet untuk memetik buah pisang tersebut dan monyet boleh di beri imbalan dengan sebagian buah pisang.

Monyet pun menerimanya dan ia mulai naik ke pohon pisang, setelah sampai di atas monyet langsung memakan dengan lahap buah pisangnya. Kancil meminta untuk diberi buah pisang tersebut, akan tetapi monyet menolaknya dan kancil hanya diberi kulitnya saja.

Monyet beralasan bahwa kancil adalah hewan yang sering berbohong dan telah banyak menipu banyak hewan. Karena kelaparan dan tidak ada yang menolong akhirnya kancil mati, itulah akhir dari kisah si kancil.

Hikmah dari cerita tersebut adalah dengan kecerdikan bisa mengalahkan yang lebih kuat dan kecerdasan adalah sebuah kelebihan. Selain itu jika sering berbohong dan menipu maka tidak akan dipercaya lagi oleh orang lain.

Jika semua orang tidak ada lagi yang percaya maka mereka akan menjauhi dan mungkin tidak menolong kita dari kesulitan. Demikianlah cerita si kancil dan pak tani, semoga dapat menghibur bagi para pembaca, jangan lupa bagikan ke media sosial agar orang lain dapat membacanya.